Siang ini aku merindukanmu, sama seperti siang-siang yang lalu atau mungkin yang akan datang setelah kamu pergi. Aku merindukan hadirmu yang selalu kutunggu di pintu kantorku, aku merindukan menyiapkan makan malammu, aku merindukan teleponmu saat mengusik siangku hanya untuk bertanya apa makan siangku hari ini, aku bahkan rindu tanyamu yang ingin tahu ada siapa saja di kantorku saat ini. Ah ya, aku juga merindukan mencium tanganmu saat kamu akan berangkat kerja, aku merindukan kecupan di keningku, genggaman tanganmu saat kita sedang mendengar lagu cinta. Lalu, kamu akan ikut bernyanyi, kemudian memelukku erat dan mengecup keningku.
“Aku jemput kamu sekarang ya”. Ucap suara di seberang sana mengakhiri percakapan kami. Aku segera membereskan dompet dan handphoneku. Memasukkannya ke dalam tas kecil, mengecek penampilanku di depan cermin terakhir kalinya, lalu aku beranjak keluar kamar, menunggu ia.
***
Dan, disinilah aku berada akhirnya, kamar hotel bernomor 218 yang disewanya sejak tadi siang.
“Kamu kenapa? Kok sedih gitu mukanya?”, ucap ia pelan seraya mengelus kepalaku.
“Enggak kenapa-kenapa kok, perasaan kamu aja kali”, jawabku singkat.
Kami diam dalam keheningan, hanya asap rokok meliuk-liuk keluar dari mulut kami.
Jelas saja aku terdiam, bodoh. Desisku dalam hati. Ia tak tahu rasanya menjadi aku. Lelah oleh penantian, lelah munafikkan rasa yang aku tau jelas masih untuknya. Pertemuan macam apa ini, umpatku. Aku hanyalah pelampiasan nafsunya. Kami bertemu, lalu pasti melakukannya. Aku lelah, sangat lelah.
pikirmu, aku tak juga merasa rindu? sketsa wajahmu membayang memenuhi otakku.
dengarlah aku memanggilmu dalam nyanyian sepi.
mendamba akan hangatnya peluk yang pernah kau beri.
lekas datang,
jemput aku dengan semyuman terindah yang pernah kukenal
dahaga rindu ini berteriak ingin dipuaskan.
jangan sampai kau terlambat, lalu kemudian rindu luruh menjadi airmata.
aku seharusnya tak pernah memasuki kehidupan kalian, mencari berbagai cara agar tetap aku lekat dalam ingatanmu. Seharusnya pun aku menyadari, cintamu kini adalah ia, bukan lagi untukku.
Aku hanyalah perempuan, mudah luluh oleh perkataan manis dan pelukan hangatmu. Logika ku seakan mati ketika kita bersama, meski sepenuhnya kusadari ini semua hanya sementara, kita tak pernah bersatu.
Dia yang kau hadirkan setelah kita ternyata tak mampu menghentikan dalamnya rasaku terhadapmu. Dia yang jelas telah kau pilih untuk gantikan aku ternyata tak mampu menghalau rindumu yang selalu coba kau munafikkan.
Terlambatkah kita? Atau mungkin inilah karma kita yang selalu mendahulukan ego diatas sayang yang kita punya?
Masih pantaskah kita bersama? Dengan semua ego yang kita tanam, dengan hal yang aku tau akan menyakitkan orang sekeliling kita?